Tribratanews.kepri.polri.go.id – Model propaganda terorisme baru “new terrorism” melalui radikalisasi di internet dengan menggunakan sosial media sebagaimana dilakukan Al-Qaidah misalnya, melahirkan suatu tantangan baru pada model keamanan negara. Negara pun dituntut untuk bermanuver dalam metode penanganan yang berbeda demi mempertahankan internet dari propaganda teroris. Para peneliti menemukan bahwa sistem propaganda dan rekruitmen online dilakukan kelompok teroris sejak peristiwa 11 September. Perihal ini yang kemudian mengakibatkan istilah radikalisasi online mencuat ke publik.

Radikalisasi online secara definisi adalah proses dimana individu melalui aktivitas online berinteraksi dengan menggunakan berbagai fasilitas internet, hingga menerima persepsi bahwa kekerasan sebagai metode yang tepat untuk menyelesaikan konflik sosial dan politik (Anita Peresin, 2014: 91). Fasilitas internet berupa sosial media dimana jejaring sosial, website/blog dan sarana komunikasi pribadi dan kelompok seperti chat room menjadi alat efektif dan cepat teroris dalam meradikalisasi pengguna internet.

Satu sumber terkait peran sosial media dan radikalisasi di internet adalah tulisan Meagin Alarid “Recruitment and Radicalization: The Role of Social Media and New Technology.”Mengutip pemberitaan CNN, Alarid memulai pemaparannya dengan pernyataan “Kaum Extrimist-kekerasan seperti ISIS telah memiliki banyak kemajuan dalam menciptakan model jejaring global lewat dukungan media online. Internet memfasilitasi kelompok ini dalam menjalankan jejaring virtual mereka diantara keberadaan Pemerintah dan komunitas (Maegin Alarid, 2014: 13).

Kutipan CNN tersebut adalah pemahaman yang cukup luas diyakini diantara media-media mainstream asing mengenai manuver kelompok-kelompok terorisme dalam melakukan aksi-aksi terorisme mereka dengan menggunakan internet.

Radikalisasi modern melalui instrumen media internet adalah upaya menjadikan masyarakat pengguna internet sebagai sasaran Teroris tanpa memandang jenis kelamin, tingkat pendidikan hingga status ekonomi seseorang sebagaimana ditekankan Alarid. Menurut Alarid, proses teradikalisasinya seseorang melalui instrumen media online lebih kepada rasa simpati kepada kelompok-kelompok tertentu ketika kondisi ketidakadilan dan frustasi politik ada, disanalah radikalisasi mudah untuk menyebar. Para pengguna internet yang terrekruit dapat menunjukan dukungan mereka dengan melakukan donasi material, mendownload materi-materi propaganda ekstrim, bergabung dengan kelompok jihad melalui chatrooms, atau sebatas menjadi pengunjung halaman-halaman facebook kelompok-kelompok radikal.

Dalam penelitiannya, Alarid mengemukakan temuan Critical Incident Analysis Group (CIAG) dimana internet telah memfasilitasi terjadinya dialog vital antara ide-ide ekstrim dengan pemikiran tentang keingintahuan yang dalam untuk menempati ruang virtual dimana infiltrasi aparat seperti di dunia nyata sulit terjadi. Pada kasus pasca Irak misalnya, chatrooms berfungsi menggantikan tempat-tempat ibadah dan pusat-pusat komunitas, hingga kedai kopi sebagai ruang rekruitmen para militan. Selain sosial media, internet juga memfasilitasi sarana penyebaran material-material jihad dalam bentuk majalah, seperti majalah Inspire, majalah online milik Al-Qaidah. Bahkan pelaku bom marathon di Boston pada tahun 2013 kakak-beradik Tamerlan dan Dzohkar Tsarnaev secara nyata menyebut bahwa mereka mendapat ilmu dari majalah Inspire tersebut dalam membuat bom.

Penyebaran radikalisme dan perekrutan terorisme juga terjadi melalui media sosial, dimana ide-ide keras dan radikal yang berasal dari jaringan kelompok teroris disebarkan secara massif lewat internet.

Dengan perkembangan internet, kelompok-kelompok teroris tidak ingin kehilangan momennya dalam merefleksikan ide, gagasan, hingga aksinya baik sebatas publikasi sampai untuk tujuan teror menciptakan ketakutan di masyarakat. Inilah fakta ditengah kehidupan modern yang harus diwaspadai, ketika kemajuan teknologi, ketika dimanfaatkan kelompok-kelompok tidak bertanggungjawab ternyata membawa dampak negatif bagi kemashlatan bangsa itu sendiri.